Makaryo

Pagi ini, aku menjalanai aktivitas seperti biasanya. Sesuai dengan apa yang aku tuliskan diactivites book . Dan dalam activities book itu tertulis satu aktivitas yaitu pergi kepasar. Ya, karena hari ini akan ada diskusi tentang pendidikan yang dilaksanakan oleh Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia. Aku ditugaskan untuk membeli snack ke pasar untuk konsumsi peserta dan pemateri.

Tak pikir panjang, setelah mandi aku memanasi motor dan menancap gas pergi ke pasar kota gede. Pagi itu sekitar pukul 8.30an. Aku langsung menuju tempat ke tempat yang biasanya sering menjual jajanan pasar. Tempatnya dipinggiran jalan tidak sampai masuk kedalam pasar.

Aku memilih beberapa jajanan pasar untuk dimasukkan kedalam kotak snack. Sembari menunggu mbak-mbaknya menyelesaikan pesananku, aku memutuskan untuk masuk kedalam pasar. “Ah lihat kondisi dalam pasar” pikirku. Layaknya preman yang meminta pajak pasar, aku keliling kesana kemari. Ya walaupun tidak ada yang kukenal satupun. Tujuan awalku hanyalah karena aku paling tidak suka menunggu sehingga waktuku terbuang sia-sia, makanya aku putuskan sembari menunggu untuk keliling pasar.

Hingga pada suatu perjalanan aku teringat dengan kata-kata temanku, “Hidup itu bukan seberapa lama kita menjalaninya, tapi seberapa dalam kita memaknainya”. Pada saat teringat dengan kata-kata itu, aku mencoba untuk memaknai setiap langkah kaki pada saat mengelilingi pasar.

Aku berjalan pelan-pelan dan memandang kesana kemari, dan ternyata luar biasa. Inilah induk ekonomi bagi masyarakat sekitar sini, dari anak muda yang masih perkasa hingga orang tua yang sudah renta melakuan proses jual beli untuk melangsungkan kehidupan didunia ini. Aku mencoba memaknai lebih dalam lagi, alhasil tidak sekadar proses jual beli yang mereka lakukan. Namun disinilah mereka berinteraksi satu sama lain, canda tawa antara pedagang, sendau gurau penjual dan pembeli, dan wajah sumringah itu nampak pada wajah mereka.

Makaryo, bahasa jawa dari kata bekerja. Inilah aktivitas kita sehari-hari dalam menjalani kehidupan. Bekerja itu tidak hanya sekadar mencari uang untuk hidup. Lebih dari itu, bekerja adalah ibadah, bekerja adalah interaki sosial, dan dengan bekerja kita akan mendapatkan manfaat. Baik untuk diri kita maupun untuk orang lain.

Perjalanan pulang, aku melihat sosok tua renta dipinggir jalan yang sedang menjajakan sayur-mayur. Aku berhenti dan mencoba untuk mengambil gambarnya. Ya, foto diatas itu ada beliau yang rambutnya sudah memutih. Dengan menggunakan sepeda yang terparkir rapi didepan itu, beliau masih semangat untuk makaryo. Terlintas dibenakku bahwa seharusnya beliau seumuran itu sudah menikmati masa-masa tuanya dirumah, dilayani oleh anaknya dan melihat cucu bermain kesana-kemari. Namun ternyata tidak. Semangat makaryo mbah, semoga Allah memberimu rezeki yang melimpah, barokah, halal nan tayib. Aamiin.

Dari apa yang aku lihat pagi itu, tidak pantaslah diri ini yang masih muda untuk bermalas-malasan. Tetap semangat dalam menjalani aktivitas, dan jangan lupa untuk terus bermanfaat untuk orang lain. Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi. Free to share!

“Ayo makaryo ben raharjo”

Bagikan kebaikan kepada orang lain:

4 comments on “Makaryo

  1. Its like you read my mind! You seem to know so much about this, like you wrote the book
    in it or something. I think that you can do with a few pics to drive the message home a little bit, but
    instead of that, this is excellent blog. A fantastic read.
    I will certainly be back.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *